

Sang Pramugari: Sofie

 

 

Pramugari kedua yang kukenal dan berkencan denganku adalah Sofie, berumur 29 tahun. Dia sudah bersuami, tetapi suaminya bekerja di Palembang dan belum punya anak. Hanya sebulan sekali datang menemui Sofie. Menurut Sofie kadang-kadang dia yang ke Palembang menemui suaminya tetapi itu hanya dilakukan bila Sofie mendapat libur terbang beberapa hari.

Aku kenal Sofie dalam perjalanan menuju Medan. Saat itu kepalaku pusing karena malamnya aku kurang tidur setelah berkencan dengan Vivi dan pagi-pagi harus berangkat. Aku minta obat ke Sofie karena dia yang bertugas di bangku deretanku. Sofie begitu baik, memberiku obat dan minyak angin, malah menawariku untuk dipijat kepalanya. Aku menolak karena aku sungkan. Saat aku ke toilet aku berpapasan dengan Sofie dan dia bertanya apakah pusingku sudah sembuh.

"Masih agak pening" jawabku.
"Mungkin yang tadi malam kurang ya?" tanya Sofie.
"Bukan kurang malah kebanyakan jadi kurang tidur" kataku membuat Sofie tertawa.
"Iya, maksudku memang kurang tidur" kata Sofie.

Akhirnya kami berkenalan, entah kenapa aku selalu beruntung berkenalan dengan pramugari yang ramah dan mau memberikan nomor teleponnya, sehingga membuka kesempatanku untuk menghubunginya. Saat kenal dengan Sofie sebenarnya baru kira-kira sebulan setelah aku berhubungan sex dengan Vivi. Tetapi entah kenapa setelah melihat Sofie aku melihat ada suatu daya tarik yang lain dalam dirinya. Sofie memang lebih tinggi dari Vivi, juga ukuran buah dadanya (setelah aku menikmati tubuh Sofie, aku tau ukurannya 36B), tetapi wajah Sofie tidak secantik Vivi, walaupun Sofie kelihatan seperti blasteran, berhidung mancung dan berkulit putih.

Kencan dengan Sofie berawal dari obrolan di telepon saat tengah malam. Aku sedang sendiri karena Vivi baru berangkat terbang sehabis bercinta denganku. Sebenarnya aku lelah karena dari pagi sampai sore aku berhubungan sex dengan Vivi tetapi entah kenapa aku belum bisa tidur padahal sudah jam 11 malam. Aku ingat Sofie dan aku kirim SMS. Ternyata Sofie sedang di rumah dan menonton TV. Akupun menghubunginya dan akhirnya kami ngobrol ngalor ngidul sampai menyinggung masalah sex. Ternyata Sofie sudah hampir 2 bulan tidak berhubungan sex karena suaminya tidak datang dan Sofie juga tidak bisa ke sana.

"Suamiku 2 minggu lagi baru datang, padahal sekarang aku baru mens. Kamu tau kan kalo cewek abis mens, biasanya lagi pengen-pengennya" kata Sofie.
"Kalo gitu sekarang lagi pengen dong? Aku aja yang jadi pelampiasannya" balasku nekat.
"Mau dong, ayo cepat ke sini kalau mau" timpal Sofie.
"Iya, begitu aku sampai rumah Sofie, Sofie udah pulas tidur" kataku membuat Sofie tertawa.

Akhirnya kami menyudahi obrolan. Saat aku mau tidur, iseng aku telepon ke HP Sofie.

"Ihh, kamu lagi. Ngapain sih? Aku lagi ganti baju tau" kata Sofie
"Kan mau ngajak tidur Sofie dan minta sun sebelum tidur"
"Iya, udah cepat sunnya. Aku lagi telanjang, dingin nih"
"Mau dong yang polos" kataku
"Nih semua buat kamu, cepat aku juga pengen" Sofie makin berani
"Mmueehh..eh tambah yang di dada dong. Mueehh..mmuueehh, makasih ya" aku menirukan seperti orang mengecup.
"Kamu besok kemana, Joy? Bisa temenin aku gak, aku pengen nonton nih" tanya Sofie.

Aku mengiyakan dan esoknya kami jadi pergi nonton. Pulang nonton aku melihat Sofie mengantuk. Saat kuajak pulang dia menolak, malah minta jalan kemana saja untuk mengusir ngantuknya. Iseng aku tawari ke hotel, Sofie diam saja. Kutanya lagi dan Sofie mengangguk.

Di kamar hotel Sofie langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang dengan posisi telungkup. AKu perhatikan tubuh sexynya. Perlahan tapi pasti benih birahiku muncul, terangsang melihat tubuh Sofie dalam balutan baju terusan yang ketat. Bahunya putih mulus, aku memberanikan diri mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. Sofie melihatku tanpa berkata apa-apa. Aku mengusap betisnya, Sofie diam saja. Aku semakin berani dengan mengecup betisnya, Sofie hanya mengeluh kecil.

Kukecup betis indah Sofie, dan kulakukan gigitan-gigitan kecil. Aku mencium jari-jari kakinya dan mengulum satu persatu membuat Sofie makin tak bisa diam. Dari ujung jari ciumanku berpindah lagi ke betis, kusingkap baju Sofie sehingga aku dapat melihat pahanya yang mulus. Kukecup dan kujilati paha Sofie sampai ke paha bagian dalam. Sofie membalikkan tubuhnya dan memegangi kepalaku. Aku semakin tinggi menyingkap bajunya dan berusaha melepas CD-nya. Tanganku meremas-remas pinggul dan pantat Sofie.

Setelah CD Sofie berhasil kulepas, aku mulai menjilati vaginanya. Sofie semakin liar dan tangannya mulai membuka bajuku. Setelah bajuku lepas, aku memutar badanku. Selangkanganku di kepala Sofie dan dia mulai membuka celana panjang dan CD-ku. Begitu CD-ku terlepas mulut Sofie segera menyambar penisku yang sudah membesar dan keras, sambil membuka baju dan BH-nya sendiri.

Sofie mengulum dan mengisap punyaku, kadang menjilat ujungnya. AKu jelajahi seluruh bagian vagina Sofie dengan lidah dan bibirku. Vagina Sofie basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya sebagai reaksi kenikmatannya bercampur dengan ludahku. Posisi 69 ini berlangsung cukup lama sampai Sofie memintaku untuk segera memasuki tubuhnya.

Perlahan aku mengarahkan penisku ke vagina Sofie, kuusap kepala penisku di vaginanya yang basah. Saat kutekan masuk, Sofie menjerit kecil.

"Auhh.. perlahan, sayang" rintihnya. "Punyamu besar sekali"

Tetapi setelah itu rintihannya menjadi desis dan erangan kenikmatan saat aku naik turun di atas tubuhnya. Tidak berapa lama aku sudah menangkap gejala Sofie akan orgasme. Dia menggigit bibirku saat aku menciumnya, mengangkat pinggul dan menggoyangkan ke atas dan ke bawah seiring dengan gerakan keluar masuk penisku.

"Sshh..sshh, oouhh..ouhh..aahh" Sofie mencapai orgasmenya.

Kubiarkan Sofie menikmati sensasi orgasmenya beberapa saat sampai nafasnya yang memburu tenang kembali. Setelah itu aku membalikkan tubuh Sofie. Dia kini berada di atasku, tetapi aku ingin menikmati persetubuhan dengan Sofie dalam posisi duduk. Sofie mulai mengerakkan tubuhnya saat penisku mulai bergerak keluar masuk di vaginanya. Posisi duduk ternyata makin membuat Sofie tidak bisa bertahan lama, tidak sampai 10 menit dia sudah mendapatkan orgasmenya lagi. Tetapi aku tidak memberi kesempatan Sofie beristirahat, kutarik tubuhnya sehingga dia menindih tubuhku. Aku segera bergerak mengayunkan penisku ke vaginanya. SOfie tanpa merasa lelah setelah orgasme 2 kali menyambut gerakaknku dengan gerakan maju mundur. Gerakan yang mula-mula perlahan, makin lama makin cepat sampai kami tidak bisa menahan lahar kenikmatan yang meletus dari dalam tubuh kami berdua.

"Ak..ku kelluaarr, So..ofii.." desahku.
"Sof..fii juga, sayang" rintihnya.

Tubuh Sofie terkulai di atas tubuhku. Setelah nafas kami tenang kembali, kami berkecupan dan berciuman. Sofie merasakan penisku masih keras di dalam vaginanya, sehingga dia mulai kembali menggoyang pinggulnya. Aku membalikkan tubuh Sofie ke bawah tubuhku. Tubuhku turun naik di atas tubuh Sofie, dia mengimbangi dengan menggerakkan pinggulnya berputar ke kiri dan ke kanan. Babak kedua ini Sofie orgasme 2 kali, dimana orgasme keduanya bersamaan dengan ejakulasiku. Penisku mulai mengecil, mungkin kelelahan karena kemarin pagi sampai sore aku melayani nafsu birahi Vivi.

"Aku puas, kamu benar-benar hebat" kata Sofie.
"Sofie juga hebat, goyangannya bikin aku gak tahan" balasku sambil mengecup bibirnya.

Kami check-out jam 7 malam setelah menghabiskan 3 babak lagi yang lebih panas. Di bangku kami melakukannya sekali, kemudian berdiri dan terakhir di kamar mandi sebelum kami mandi dan membersihkan diri.

Sesampainya di rumah Sofie, aku merasakan kelelahan tetapi Sofie masih menggodaku dengan mengusap-usap paha dan kejantananku. Pada awalnya aku agak enggan melayani tetapi semakin lama Sofie semakin nakal. Ia mulai menurunkan resleting celanaku. Celana dalamku juga mulai dilucuti hingga dari pinggang ke bawah aku tidak memakai apa-apa lagi. Sofie mulai mendekatkan mulutnya ke penisku. Mulai dengan kecupan dan gigitan-gigitan kecil, kemudian mengulumnya saat penisku semakin besar dan keras. Di rumah sendiri Sofie begitu bebas melakukannya. Tanganku juga tak bisa diam meremas buah dadanya. Penisku terus dikulum dan diisap sampai aku tidak tahan lagi dan mengeluarkan air maniku di mulutnya. Sofie menelan habis seluruh air maniku dan menjilati sisa-sisanya di batang kejantananku. Setelah itu Sofie masih juga tidak berhenti mengecupi penisku. Aku merasa benar-benar dimanjakan.

Saat aku mau memakai celanaku, Sofie melarang. Dia malah mengajak pindah ke kamar tidur.

"Malam ini aku ingin bermain cinta sepuasnya denganmu, sayang" bisiknya di telingaku.
"Memang yang tadi di hotel masih kurang? Tadi bilang puas, sekarang pengen lagi" tanyaku.
"Iya, karena enak aku jadi ketagihan dan pengen main lagi"
"Tapi tidur dulu ya, aku cape banget nih" pintaku.

Sofie menganggukkan kepala dan menuntunku ke kamar tidurnya. Kami kemudian tidur berpelukan setelah Sofie berganti pakaian tidur yang tipis dan tembus pandang, sedangkan aku hanya memakai celana dalam saja.

Saat aku lelap tidur aku merasakan ada rasa geli di pangkal pahaku. Aku terbangun dan kulihat Sofie sedang asik mengulum penisku. Kubiarkan Sofie mengulum dan mengisapnya, sampai penisku semakin besar dan keras. Melihat aku terbangun Sofie bukannya berhenti, malah mulai menjilat ujung penisku. Setelah cukup lama mengulum penisku, Sofie kemudian naik ke atas tubuhku dan mengarahkan vaginanya ke penisku.

Penisku terbenam di dalam vagina hangat Sofie. Dia mulai membuat gerakan naik turun di atas tubuhku, kadang membuat gerakan maju mundur, kadang memutar pinggulnya. Sofie nampak menikmati kejantananku yang terbenam di vaginanya. Rintih dan desahnya menunjukkan gairah terpendam yang selama 2 bulan tidak tersalurkan. Akhirnya erangan panjang mengakhiri gerakan tubuhnya. Sofie mencapai puncak kenikmatan. Setelah itu ganti aku membalikkan tubuhnya dan memacu birahi.

Oouhh.. oohh rintih Sofie. Terusshh.., sayangg"
"Mmhh..aahh" desahku

Aku semakin cepat menggerakkan tubuhku saat kurasakan tanda-tanda Sofie akan mencapai orgasmenya yang kedua.

"Sshh..sshh, ayoo .. aku mauu.. ke..lluarr.." Sofie semakin binal menggoyangkan pinggulnya.
"Ak..kuu.. ke..luarr, sayang" aku tidak dapat menahan desakan dari dalam tubuhku.
"Aku.. juga..sayang.. Aahh..nikmat" Sofie mencapai orgasme keduanya sambil mencengkeram bahuku.

Aku merasakan sedikit perih di bahuku karena kuku Sofie terbenam cukup dalam saat dia mencengkeram. Aku terkulai di atas tubuh mulus Sofie. Kami saling berkecupan. Keringat menetes dari tubuh kami berdua. Kulihat wajah Sofie senyum kepuasan, tangannya pengusap-usap pipiku. Setelah itu kami istirahat tapi kami tidak tidur karena Sofie meminta lagi. Walaupun tersasa lelah tetapi kelelahanku dikalahkan oleh kenikmatan sex yang diberikan oleh Sofie. Sofie begitu pandai membuatku terangsang dan bangkit lagi gairahku. Sampai pagi aku menjadi pelampiasan nafsu birahi Sofie yang binal dan liar.

Sejak itu, saat suaminya ada di Palembang adalah saat yang diinginkan oleh Sofie karena dia bebas mereguk kenikmatan sex dariku. Bahkan kadang-kadang aku menginap di rumahnya, menggeluti dan menikmati tubuh mulusnya semalam suntuk. Menurut Sofie, sejak merasakan keperkasaanku, dia tidak pernah menikmati hubungan sex dengan suaminya, Sofie hanya melakukan kewajibannya sebagai seorang isteri. Tetapi Sofie juga tidak ingin bercerai dari suaminya karena dia tau tidak mungkin menikah denganku, selain itu Sofie beralasan kalau dia bercerai dan menikah dengan lelaki lain, belum tentu Sofie punya kesempatan menikmati tubuhku lagi.

Setelah dengan Sofie, masih ada 3 pramugari lagi yang berkencan dan bermain cinta denganku, yaitu Febby, Siska, dan Pinkan. Selain itu ada beberapa wanita lain yang kerap berhubungan sex denganku seperti Emmy dan temannya Dian, dan yang lainnya.

 

Pengirim: joy (joycpl2000@yahoo.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 100%, Cukup = 0%, Jelek = 0%

 

     
<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>